Mario Teguh

>> <<

Pages

Akuntansi VB

  • Akuntansi

Blogger templates

Popular Post

Random Post

Trending Topic

Ikal Ludya Hakim. Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Pengikut

Popular Posts

Jumat, 31 Agustus 2012

Surat Untuk Yang Tersakiti


Teruntuk seseorang yang pernah ku sakiti. Teruntuk seseorang yang kecewa dengan tingkahku selama ini, untuk dia yang terus berdiam diri, untuk seseorang yang pernah mengisi namanya dihatiku ini. Assalamu’alaikum wahai engkau yang pernah tersakiti, Lama kita tidak saling mengirim kabar, teramat lama juga kita membangun luka antara sesama kita. Maafkanlah aku yang terus kecewa, maafkan aku yang begitu posesif ingin melindungimu namun aku tak pernah mengerti cara yang dewasa yang kau anggap baik untuk melindungimu. Maafkanlah aku yang tak pernah dewasa dalam mengambil sikap. Teramat lama aku ingin segera mengakhiri perang dingin ini. Teramat lama aku ingin kita kembali berteman seperti dulu lagi, tanpa harus ada makian antara aku dan kamu. Teramat lama dan telah teramat sesak aku menunggu waktu yang tepat untuk mengucapkan kata maaf ini. Maka maafkanlah aku. Apakah engkau harus terus memegang kata: tidaklah mudah untuk memaafkan. Bukankah Tuhan saja Maha Pemaaf, namun mengapa aku atau engkau tidak mampu memaafkan? Sudah menjadi tuhan-tuhan kecilkah kita? Atau memang engkau telah memaafkan segala kesalahanku? Namun mengapa telah terputus tali silaturahmi diantara kita? Jangan seperti itu. Sungguh jangan seperti itu. Janganlah begitu mudah memutuskan sesuatu yang berat, janganlah begitu mudah membenci sesuatu. Hal yang engkau anggap ringan itu sebenarnya adalah sesuatu yang berat di mata Allah. “Dan janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil.” Masih ingatkah engkau suatu kisah, dimana bercerita: “Aku pernah memiliki seekor domba, dulu domba itu begitu kusayang. Kemana aku pergi domba itu mengikutiku, dan kemana domba itu beranjak akupun mengikutinya. Namun suatu hari aku amat begitu buruk dan membencinya, domba itu mulai sering mengomel. Dia mengoceh betapa aku harus lebih sering mandi, dia terus berkelakar bahwa tidak baik jika aku tidak mandi. Dia mulai sering mengkritikku. Aku marah. Aku ku tinggalkan domba itu sendiri. Tidak peduli dia mau mati atau terisak nangis sendiri. Bahkan domba itu mulai membentak bahwa selama ini aku tidak ikhlas menemaninya, padahal aku ikhlas.” Dan aku pun tersenyum mendengar kisah tsb. Aku pun berkata, “Mengapa tidak kau temani lagi dombamu yang sedang merajuk itu?” Kau pun ketus menjawab, “TIDAK! Dia bukan dombaku!” Tahukah engkau wahai seseorang yang pernah ku sakiti, aku pun kini merasakan apa yang dialami oleh domba itu. Terlalu sakitkah dirimu sehingga engkau begitu membenciku dan menjadikan aku laksana domba dalam ceritamu? Jangan seperti itu. Sungguh jangan seperti itu. Janganlah engkau seperti Yunus ketika meninggalkan kaumnya karena kemarahannya akibat kezaliman kaumnya dan Allah pun memperingatkan Yunus, “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” Dulu kita pernah berteman baik sekali, hingga aku pun mengerti kapan kau akan sakit dalam tiap-tiap bulanmu. Dulu engkau begitu pengasih, hingga tahu betapa aku menginginkan sesuatu dan engkaupun memberikannya. Dulu, kita berdua begitu baik. Namun mengapa setelah datang kebaikan, timbul keburukan? Sedari awal, aku telah memaafkanmu. Bahkan aku merasa, kesalahanmu di mataku adalah akibat salahku. Aku yang memulai menanam angin, dan aku melihat badai di antara kita. Badai dingin yang amat begitu menyesakkan. Paling tidak untukku. Jangan takut jika engkau khawatir perasaan cinta yang dulu melekat akan kembali timbul. Aku bukanlah seorang baiquni seperti yang dulu lagi. Aku telah mengubah sudut pandangku tentang seseorang yang layak aku cintai. Aku sekarang sedang mencari bidadari. Ingin aku bercerita kepadamu, kandidat-kandidat bidadariku. Mengapa setelah habis cinta timbul beribu kebencian. Mengapa tidak mencoba membuka hati untuk seteguk rasa maaf. Jujur, bukan dirimu saja yang tersakiti, namun aku juga. Namun aku mencoba membuang semua sakit yang begitu menyobek hati. Andai engkau tahu wahai engkau yang pernah kusakiti. Pernahkah engkau menangis karenaku seperti aku menangis karenamu? Seperti aku terisak dihadapanmu. Pernahkah? Mungkin dirimu telah menemukan seseorang yang begitu engkau sayangi. Seseorang yang mampu membangkitkan hidupmu lagi, tetapi aku? Pernahkah engkau berpikir betapa hal yang engkau lakukan terhadapku begitu berdampak laksana katrina. Bahkan setelah itu aku masih memaafkanmu, bahkan aku menunduk memintamu memaafkan aku. Sudah menjadi tuhan kecilkah dirimu? Bahkan Tuhan saja memaafkan. Tahukah wahai engkau yang pernah tersakiti, betapa aku meneteskan air mata saat menulis ini. Betapa aku seolah pendosa laksana iblis yang terkutuk. Apakah engkau mengerti apa yang kurasakan? Mengertikah dirimu? Tak pernah ada manusia yang luput dari suatu kekhilafan. Tidak aku, tidak juga kamu wahai engkau yang pernah tersakiti. Maka, bukalah pintu maafmu itu. Untuk surat ini, untuk kekhilafanku yang lampau, untuk kenangan yang membuatmu sakit, untuk segala sesuatu tentang kita, aku minta maaf. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sabtu, 18 Agustus 2012

MICROSOFT NET FRAMEWORK ALL VERSION

Senin, 06 Agustus 2012

PANTAI KARANG HAWU


SABAR SAAT BERPISAH DENGAN PERMATA HATI


(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah) Ujian akan selalu ada dalam kehidupan manusia. Bentuknya pun bisa bermacam-macam. Salah satunya adalah kematian anak. Sabar adalah satu-satunya pilihan yang harus diambil oleh seorang muslim agar mendapatkan kebaikan dari ujian yang menimpanya. Berpisah untuk selamanya di dunia dengan anak yang dikasihi memang suatu kepedihan yang tertoreh begitu dalam di lubuk hati seorang insan. Apatah lagi dia seorang ibu yang pernah merasakan mengandung si anak, melahirkan, mengasuh, dan membesarkannya. Rasanya tak sanggup membayangkan hari-hari berlalu tanpa mendengar dan melihat celoteh, tawa canda, keceriaan, tangis dan jeritannya. Namun Allah I telah mengambil kembali milik-Nya, karena memang Dialah Pemilik yang hakiki. Dia berbuat sekehendak-Nya dengan hikmah-Nya yang agung dan dengan kemahaadilan-Nya. (Allah telah menakdirkan dan apa yang Dia inginkan maka Dia lakukan), sehingga yang sepantasnya terlantun dari lisan seorang hamba yang beriman adalah kalimat istirja‘, Innalillahi wa inna ilaihi raji‘un dan dia berdoa kepada Allah I agar dia diberi pahala dengan ujian/ musibah yang menimpanya, diberikan ganti dengan yang lebih baik daripada musibah tersebut dan diberi taufik untuk bersabar dengan kesabaran yang indah, . Wallahu al-musta‘an. Demikianlah yang seharusnya dilakukan seorang ibu bila Allah I mengambil permata hatinya. Dia bersabar, ridha, dan ihtisab (meniatkan kesabaran itu untuk mendapatkan pahala dari-Nya agar Allah menghitungnya sebagai amalan shalih)! Ujian itu suatu kemestian Tidak ada seorang mukmin pun yang hidup di muka bumi ini kecuali dia akan diuji oleh Allah I. Dia Yang Maha Suci berfirman dalam tanzil-Nya: “Kami sungguh-sungguh akan menguji kalian dengan sedikit dari rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa1, dan buah-buahan. Dan berilah kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Innalillahi wa inna ilaihi raji’un’. Mereka itulah yang mendapat pujian dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.” (Al-Baqarah:155-157) Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di t berkata dalam menafsirkan terhadap ayat di atas: “Allah I mengabarkan bahwa Dia pasti akan menimpakan ujian kepada hamba-hamba-Nya, agar menjadi jelas siapa yang jujur dalam imannya dan siapa yang dusta, siapa yang berkeluh kesah dan siapa yang sabar. Ini adalah sunnatullah terhadap hamba-hamba-Nya. Andai kelapangan dan kesenangan itu terus-menerus diperoleh orang yang beriman dan dia tidak diberi ujian, niscaya akan terjadi percampuran (orang yang benar imannya dengan orang yang dusta dalam keimanannya, pen.) di mana hal itu merupakan kerusakan. Sementara hikmah Allah menghendaki dipisahkan/ dibedakannya orang yang baik dari orang yang jelek. Inilah faidah ujian. Ujian itu bukanlah bertujuan menghilangkan iman kaum mukminin dan bukan pula tujuannya menolak mereka dari agama mereka.” Beliau t berkata lagi: “Siapa yang diberi taufik oleh Allah untuk bersabar ketika ditimpa musibah, maka dia akan menahan dirinya dari sikap marah (kepada Allah) baik dalam ucapan maupun perbuatan. Dia mengharapkan pahalanya dari sisi Allah dan dia tahu pahala yang diperoleh dengan kesabarannya lebih besar daripada musibah yang menimpanya. Bahkan musibah itu bisa menjadi kenikmatan bagi dirinya. Karena, musibah tersebut menjadi sebuah jalan yang mengantarkannya kepada perkara yang lebih baik dan lebih bermanfaat baginya. Orang yang berbuat demikian sungguh telah berpegang dengan perintah Allah dan dia beruntung memperoleh pahala-Nya.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hal. 76). Untuknya dipersembahkan kabar gembira dari sabda Rasul yang mulia r: “Siapa yang Allah inginkan kebaikan baginya maka Allah berikan musibah padanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5645) Surga yang dijanjikan bagi orang yang bersabar Allah I menjanjikan surga bagi hamba-Nya yang mau bersabar dengan musibah yang menimpanya. Janji ini teruntai lewat lisan Rasulullah r: “Allah I berfirman: Tidak ada balasan yang diperoleh seorang hamba-Ku yang mukmin di sisi-Ku ketika Aku mengambil orang yang dikasihinya dari penduduk dunia kemudian dia bersabar (karena mengharapkan pahala dari-Ku), kecuali (dia akan memperoleh) surga.” (HR. Al-Bukhari no. 6424) Maka, duhai ibu, betapa kecil dukamu karena perpisahan dengannya bila dibanding dengan jannah (surga) Allah I yang kan engkau peroleh. Bersabar dan harapkanlah pahala dari-Nya! Satu lagi berita yang semoga dapat menggembirakanmu dan meringankan dukamu. Abu Sinan bertutur: “Aku telah meletakkan anakku dalam kuburnya. Ketika aku masih berada dalam liang kubur tiba-tiba Abu Thalhah Al-Khaulani memegang tanganku lalu ia mengeluarkan aku. “Maukah aku beri kabar gembira padamu?”, tanyanya. “Tentu”, jawabku. “Telah menceritakan padaku Adh-Dhahhak bin Abdirrahman dari Abu Musa Al-Asy’ari z, ia berkata: “Rasulullah r bersabda: “Allah I berfirman : “Wahai Malaikat Maut, engkau telah mencabut ruh anak dari hamba-Ku? Engkau telah mencabut ruh penyejuk matanya dan buah hatinya?” Malaikat maut menjawab: “Ya.” Allah berfirman: “Lalu apa yang diucapkan hamba-Ku itu?” (Dan Allah Maha Tahu, pen) “Dia memuji-Mu dan mengucapkan istirja’,” jawab Malaikat Maut. Allah I berfirman: “Kalau begitu bangunkan untuknya sebuah rumah di surga dan beri nama rumah itu dengan Baitul Hamdi.” (HR. Ahmad, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahihul Jami’ no. 795) Ingat pula bagaimana kisah kesabaran dan ketabahan Ummu Sulaim x menghadapi kematian putranya, sehingga Rasul yang mulia r mendoakan keberkahan untuk diri dan suaminya di malam itu. Allah pun dengan kemahaadilan-dan kasih sayang-Nya menggantikan untuk keduanya dengan anak yang lebih baik, yang kelak melahirkan sembilan anak yang hapal Al-Qur’an. Subhanallah! (HR. Al-Bukhari no. 5470 dan Muslim no. 2144) Tangis tidaklah meniadakan kesabaran Bersabar ketika anak meninggal dunia bukanlah berarti seseorang tidak diperkenankan menangis. Rasulullah r bersabda: “Sesungguhnya Allah tidaklah mengadzab seorang hamba karena tetesan air matanya dan tidak pula karena kesedihan hatinya…” (HR. Al-Bukhari no. 1304 dan Muslim no. 924) Bahkan tangisan itu adalah rahmat, tanda kasih sayang di hati seorang hamba. Namun yang dilarang dalam hal ini bila tangis itu berupa ratapan, dengan berteriak-teriak dan mengucapkan kata-kata sebagai pertanda tidak ridha dengan ketetapan Allah atau melakukan tindakan-tindakan yang diharamkan seperti memukul pipi, merobek kantung baju dan lainnya (melakukan niyahah). Adapun sekadar meneteskan air mata karena didorong kesedihan hati maka Rasulullah r pun mengalaminya. Usamah bin Zaid bin Haritsah c maula Rasulullah r berkisah: “Putri Rasulullah r mengirim seseorang untuk menemui Rasulullah guna menyampaikan pesannya: ‘Putraku telah menjelang wafatnya, maka mohon ayah datang ke tempat kami’. Rasulullah r pun mengirim utusannya guna menyampaikan salam beliau dan mengatakan: “Sesungguhnya milik Allah-lah apa yang Dia ambil dan segala sesuatu di sisi-Nya memiliki ajal yang tertentu. Karena itu hendaklah engkau bersabar dan ihtisab-lah.” Setelah mendapat pesan demikian, putri Rasulullah r kembali mengirim seseorang untuk menemui beliau dan bersumpah agar beliau mau mendatanginya. Maka beliau pun menuju rumah putrinya ditemani Sa’ad bin Ubadah, Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka‘ab, Zaid bin Tsabit dan beberapa orang lainnya g. Cucu beliau yang menjelang ajalnya itu pun diangkat kepada beliau, maka beliau mendudukkannya di pangkuan beliau sementara napas anak itu berguncang. Mengalirlah air mata beliau. Sa‘ad pun bertanya: “Ya Rasulullah, tangisan apakah ini?” “Tangisan ini adalah rahmat yang Allah jadikan di hati hamba-hamba-Nya,” jawab beliau. Dalam satu riwayat: “Tangisan ini adalah rahmat yang Allah tempatkan di hati-hati hamba yang Dia kehendaki dan Allah hanyalah merahmati hamba-hamba-Nya yang memiliki rasa kasih sayang.” (HR. Al-Bukhari no. 1284 dan Muslim no. 923) Duhai ibu, bersabarlah dengan musibah yang menimpamu dan harapkanlah pahala dari Rabbmu yang amat Pengasih!!! Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

Kamis, 31 Mei 2012

sifat manusia


Sudah Tahukah Anda ? | Inilah Musuh Manusia Yang Sebenarnya | ♥ Bismillaahir Rahmaanir Rahiim ♥ 1. Rasa Marah Rasa gejolak yang datang dari diri sendiri terhadap lingkungan. Coba bersabar dan kendalikan, kadang tidak semua yang kita inginkan bisa terwujud. Cara mengendalikan : Tarik nafas dalam-dalam lewat hidung lalu hembuskan perlahan melalui mulut, lakukan secara teratur sampai timbul rasa lega. kalo belum kunjung reda, coba lampiaskan kemarahan melalui tulisan di atas kertas. 2. Takut Perasaan yang timbul apabila kita merasa tidak mampu menghadapi sesuatu peristiwa yang terjadi. Sugesti yang seakan-akan membisikkan kita bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, padahal kenyataannya belum tentu seperti itu. Cara mengendalikan : Berpikir positif dan bayangkan bahwa semua akan berjalan dengan baik dan menghasilkan sesuatu yang memuaskan. 3. Kikir/Pelit Rasa susah memberikan sesuatu pada orang lain. Rezeki sudah ada yang mengatur, jadi kita tidak mungkin rugi memberikan sebagian milik kita, bahkan dengan memberikan sesuatu kepada orang lain, mungkin ada balasan yang lebih berharga dari sesuatu yang kita berikan kepada orang lain. Cara mengendalikan : Lihat dari sisi hati nurani kita, tapi jangan mudah tertipu oleh penampilan orang lain. 4. Ragu Bimbang atau bingung atau tidak ada suatu tekad yang bulat untuk melakukan sesuatu. Hidup adalah pilihan, tetapi dalam memilih harus dipikirkan terlebih dahulu. Salah dalam memilih dapat mengakibatkan suatu penyesalan. Cara mengendalikan : Pilih baik atau buruknya dengan pikir panjang. 5. Takabur Rasa yang menganggap kesuksesan suatu bidang hanya karena usaha sendiri. Manusia adalah mahluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Dan tidak akan mungkin bisa hidup sendiri tanpa bantuan. Cara mengendalikan : Bersyukur dengan hasil yang sudah dicapai bukan karena diri sendiri tapi dengan bantuan orang lain juga. 6. Buruk Sangka Memandang seseorang dari sisi negatifnya saja walaupun hal itu belum tentu benar. Berpikir negatif bisa menyebabkan kebencian walaupun kenyataannya tidak seperti hal yang dipikirkan. Yang parahnya, terkadang persangkaan kita tiada berdasar dan tidak beralasan. Memang semata-mata sifat kita suka curiga dan penuh sangka kepada orang lain, lalu kita membiarkan pikiran tersebut bersemayam di dalam hati. Bahkan kita membicarakan serta menyampaikannya kepada orang lain dan dapat menyebabkan fitnah. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang berbeda-beda. Cara mengendalikan : Jangan berpikir kita orang yang sempurna dan banyak mengingat kebaikan seseorang. 7. Malas Tidak suka bekerja atau tidak ada keinginan melakukan sesuatu hal. Waktu itu gratis, tapi sangat berharga. Kamu tidak akan dapat memiliki, tapi dapat memanfaatkannya. Kamu tidak dapat menyimpan, tapi dapat menghabiskannya. Sekali kehilangan, kamu tidak akan bisa mendapatkannya kembali. Cara mengendalikan : Lakukan sesuatu yang berguna. Buat rencana dan tujuan hidup agar kita memiliki motivasi dan semangat dalam melakukan suatu hal. 8. Iri/Cemburu Orang yang kurang senang melihat orang lain beruntung. Rezeki setiap orang berbeda-beda, mungkin di bidang yang satu, orang lain lebih beruntung, coba di bidang lain mungkin kita bisa lebih unggul. Cara mengendalikan : Jika orang lain sukses dalam suatu bidang, jadikan motivasi buat kita untuk berusaha lebih baik mungkin di bidang lain kita bisa lebih sukses. 9. Sombong Merasa superior, tinggi hati, angkuh, congkak, paling hebat dan ingin dipuji oleh orang lain. Diatas awan masih ada langit. Orang yang seperti ini kadang dijauhi dan dibenci orang lain. Cara mengendalikan : jangan merasa kita lebih baik dari orang lain, bersikaplah rendah hati dan santun. 10. Ceroboh/Pelupa Kurang hati-hati dan kurang teliti dalam melakukan sesuatu dan selalu ada suatu kekeliruan atau kesalahan. Merepotkan dan merugikan diri sendiri dan orang lain. Cara mengendalikan : Teliti dan selalu periksa atau memastikan dalam bertindak apakah sudah benar atau belum. Konsentrasi. Bawa catatan. 11. Putus Asa Mudah menyerah dan pabila mengalami kegagalan seolah-olah sudah tidak ada harapan lagi baik untuk masa depannya. Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Orang yang sukses pasti mengalami gagal. Cara mengendalikan : Berusaha dengan baik walaupun gagal, jangan menyerah dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. (♥ Subhanallah & Semoga Bermanfaat ♥) ____________________________________________________ Jika menurut kalian, artikel ini bermanfaat. Silakan di-share untuk teman Anda, sahabat Anda, keluarga Anda, atau bahkan orang yang tidak Anda kenal sekalipun. semoga Anda juga mendapatkan balasan pahala yang berlimpah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Aamiin Ya rabbal 'alamiin | #BERSIHKAN HATI MENUJU RIDHA ILAHI# ... Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma Wabihamdika Asyhadu Allailaaha Illa Anta Astaghfiruka Wa atuubu Ilaik ..

Senin, 13 Februari 2012

Akuntansi VB

Bencana Alam

Senin, 30 Januari 2012

Bunuh Diri Dalam Pandangan Islam

Bagaimana Islam memandang tindakan bunuh diri?

Prinsip mengambil nyawa adalah sama, baik nyawa orang lain maupun nyawa diri sendiri. Nyawa atau kehidupan bukanlah milik kita, melainkan diciptakan atau dijadikan dengan maksud dan tujuan. Hanya Sang Penciptalah yang mempinyai keputusan akhir dalam perkara ini, apakah Dia akan memanggil Kembali seseorang kepada-Nya atau tidak memanggilnya. Jadi kita bukanlah pemilik dari nyawa.

Conto Surat perizinan

BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA
(BEM)
STKIP-PGRI SUKABUMI
KABINET SAJISAGA
Sekretariat PERMA  Jln. Karamat No. 69 Telp. 0877 2055 6723 Kota Sukabumi
No         : .../BEM/SOM/I/’12                    Sukabumi, 28 Januari 2012
Hal         : Permohonan Ijin Penyelenggaraan Kegiatan
Lampiran     : -

Kepada Yth.
..............................
Di tempat

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Dalam rangka melaksanakan Program Kerja Badan Eksekutif Mahasiswa Kabinet SAJISAGA, maka kami sebagai Panitia Pelaksana bermaksud untuk mengadakan kegiatan Parade Band se-STKIP PGRI Sukabumi dengan tema “The Spirit Of Music 2012 STKIP-PGRI Sukabumi”,
pada :

Hari    :
Tanggal    :
Waktu     : Pkl 08.00 WIB – Selesai
Tempat    :

 Demi suksesnya acara tersebut, kami selaku panitia meminta ijin dan persetujuan untuk mengadakan acara tersebut, sehingga acara tersebut dapat berjalan dengan lancar tanpa ada halangan yang berarti.

Demikian surat ini kami buat, atas ijin yang diberikan kami ucapkan terima kasih.
Hormat Kami
Panitia Pelaksana
Ketua Pelaksana

Nur Hamid    Sekretaris

Ikal Ludya Hakim
Mengetahui
Presiden Mahasiswa

Rahadian Budi Lesmana

Go To Sari Ater Hotspring

Pada tgl 7 Desember Pendidikan Ekonomi Akuntansi telah melakukan Study Tour. dan kelas kami menjadi yang pertama melakukan study tour dibandingkan dengan kelas  yang lain di angkatan tingkat 3....AKUNTANSI VB IS THE BEST 

Minggu, 29 Januari 2012

di Tontonnyaaaaa

BEM Kabinet SAJISAGA

Rabu, 04 Januari 2012

JANGKRIK PEMAKAN DAGING DARI ZAMAN DINOSAURUS

JANGKRIK PEMAKAN DAGING DARI ZAMAN DINOSAURUS Sebuah fosil serangga predator dari zaman dinosaurus baru-baru ini ditemukan di lapisan kapur yang terletak di wilayah utara Brazil. Serangga ini adalah serangga karnivora pemakan daging yang berasal dari 100 juta tahun silam. Nenek moyang jangkrik itu hidup di periode Cretaceous, sesaat sebelum superbenua Gondwana (superbenua yang mencakup benua Afrika, Amerika Selatan, Australia, India, Arab, dan Antartika saat ini) terpecah. Seperti dikutip dari situs LiveScience, ia berasal dari genus Schizodactylus atau jangkrik berkaki miring. Genus Schizodactylus mencakup jangkrik yang ada saat ini, belalang, serta binatang bernama katydid. “Nama ini mereka dapatkan sesuai dengan kaki yang mereka miliki yang membuat mereka bisa melenting dan menyokong tubuh mereka di habitat berpasir untuk memburu mangsa mereka,” kata Sam Heads, Ketua peneliti yang menemukan fosil ini. Saat berburu, kata Heads, spesies ini sebenarnya tak menggunakan strategi khusus. Serangga bertubuh tambun ini keluar malam hari menyisir habitat mereka untuk mencari mangsa. “Mereka bisa bergerak dengan cepat bila diperlukan… dan mereka cukup rakus,” ujar Sam yang berasal dari University Illinois itu. Setidaknya, ia memiliki perbedaan dengan jangkrik yang ada saat ini. Dengan panjang sekitar 6 cm dari kepala hingga ke bagian belakang tubuhnya, ia memiliki postur yang agak aneh. Antenanya lebih panjang dari tubuhnya. Jangkrik ini juga memiliki sayap yang tergulung dan kaki yang tajam seperti sepatu salju. Menurut Heads, ini untuk mendukungnya tetap bisa menjejak di daerah berpasir. Namun, jangkrik yang sangat agresif ini tak bisa terbang walaupun memiliki sayap. Sayapnya, kata Heads biasanya hanya bisa dimekarkan saat diperlukan. Secara umum, kata Heads, jangkrik ini tidak begitu banyak mengalami evolusi atau mengalami periode ‘evolutionary stasis’ selama paling tidak 100 juta tahun. Artis Panas Disini